Pagi yang
cerah, cahayanya menyilaukan mataku yang masuk ke kamarku melalui lubang
genteng atap rumahku. Aku sadar sekarang waktunya diriku untuk bangun.
Tidak seperti
saudara saudaraku yang lainnya aku selalu bangun yang paling akhir di antara
mereka semua maklumlah aku adalah anak terakhir dari sepuluh bersaudara, aku
mendapatkan kasih sayang yang mungkin bisa di bilang cukup dan hal itulah yang
membuat diriku menjadi malas untuk menjadi anak yang rajin.
Semangunya dari
tempat tidur aku pergi ke dapur untuk mengambil makanan dari meja makan yang
tertutup oleh tudung saji berwarna biru.
Tak perlu aku
ceritakan hal atau sesuatu yang bisa aku ceritakan kepada kalian tentang
sarapanku. Karena percayalah tidak ada hal yang menarik dari sarapan pagiku.
Seusai aku
selesai menyelesaikan sarapanku, seperti biasa aku langsung menuju kampus untuk
menerima pelajaran dari seorang dosen yang wajahnya datar sekali dan bahkan sulit
sekali untuk membedakan bagaimanakah perasaannya saat ini susahkah atau
sedihkah ! hanya tuhan yang tahu.
Ya mata kuliah
pagi ini adalah berhubungan dengan statistik, ketahuilah apa yang paling aku
benci dari kuliah ini adalah soal menghitung! Otaku sangat lemah terhadap apa
saja yang berhubungan dengan angka.
Nama dosenku
itu adalah suwarsono, temperamental datar,suara datar,tapi intelegensi yang
tingggi. Hari ini aku ingin sekali bertanya berapa nilai UASku yang aku
kerjakan kemarin.semogasaja tidak dapat D.
saat kuliah
selesai perkuliahan akhirnya aku memberanikan diriku untuk menemui pak
suwarsono untuk mengetahui berapa nilai uasku saat itu.
“pak war”
panggilku pada beliau
“ia ada apa”
jawabnya
“e... saya
ingin mengetahui berapakah nilai ujian saya saat Uas kemarin “
Dia hanya diam
saja saat aku memasang wajah berharap padanya. Dan ada sepatah kata yang mulai
keluar darinya.
“budi nilai
statistik kamu jelek sekali aku bahkan tidak yakin kamu bisa melanjutkan mata
kuliah dependensi berikutnya jika kamu masih jelek dalam mata kuliah ini”
Aku berani
bertaruh nilai statistiku masih jelek mendengar jawapan darinya. Akupun diam terbisu
dan membiarkan beliau melangkah meninggalkan kelas.
Dan tanpa aku
duga beliau memanggilku lagi.
“bud jika kamu
masih ingin aku beri nilai b pergilah ke rumahku jam 12.30 siang, di sana aku
akan memberikanmu sedikit kuliah Vip gratis dan di ikuti dengan ujian susulan
untuk memperbaiki nilai merahmu itu”
Wah aku senang
sekali mendengar ucapan dari pak warso dia mau memberiku ujian susulan.
Jam ber jam pun
berlalu waktu terus berputar seiring aku melalui kuliah mikro dan akuntansi
keuanganku, dan sudah tiba pada waktu jam 12.00 aku mengirim pesan kepada
ayahku bahwa aku tidak bisa langsung pulang di karenakah ada keperluan dengan
dosenku. Dan tanpa menunggu lagi aku langsung tancap gas menuju rumah pak
warso.
Sesampainya di
rumahnya aku menengok jam tanganku sudah menunjukan pukul 12.23 tepat. Aku ketuk
pintunya dan selang 1 menit kemudian, pintupun terbuka dan yang membukakan pintu
adalah ibu-ibu yang memakai baju dress yang mungkin itu adalah istri beliau.
Aku di
persilahkan duduk olehnya. Kulihat hiasan rumahnya yang bernuansa jawa tulen di
belakang sofa terdapat hiasan dinding gambar kota ka’bah yang pasti aku duga
beliau beli dari sales gambar lukisan.
Selang beberapa
saat aku mendengar ada dua piring pecah piar........! piar...........! aku
menduga pasti ada sesuatu terjadi di bagian dapur, tapi aku tidak berani
mendekat walau bagaimanapun ini adalah rumah orang! Terdengar juga suara dua
orang yang sedang bertengkar bla bla
bla, selang beberapa saat ada seorang om om keluar dengan wajah memerah dan
menatap wajahku! Aku hanya tersenyum padanya sambil menundukan kepalaku
Dan akhirnya
pak dosen temperamental datarpun datang, aku menduga pasti dialah orang yang
melakukan pertengkaran dengan om om yang keluar
rumah sambil menatap wajahku tadi, terbukti dengan wajah pak warso yang
lesu dan terlihat galau. Tapi aku tidak berani menanyai, aku sadar sendiri
bahwa itu adalah bukan urusanku. Dan waktu kuliah vipkupun sudah di mulai. Pak warso
mulaimenunjukan padaku beberapa rumus
beserta contoh soalnya.
Jam menunjukan
12.44 om om yang tadi keluar rumah, masuk lalu membanting pintu masuk burak........!
huawah angkuhnya orang itu tidak memperdulikan kami sambil menghisap rokok.
Pak warso
kemudian menghentikan sejenak kuliahku dan bercerita kepadaku
“maafkan pak
warso ya bud, itu adalah adik ipar ku, mungkin kamu tadi mendengar kami
bertengkar sehingga kamu jadi terganggu kuliahnya” tuturnya padaku
“iya tidak apa-apa
kok pak” jawabku
Kemudian dari
dapur terdengar suara adik pak warso memanggilnya “Mas tolong kesini sebentar
aku ingin bicara denganmu”
“iya jib aku
nanti kesana sebentar “ jawab pak warsono kepada adik iparnya
“E... budi sebaiknya
kamu mulai mengerjakan soal uas susulan saja ya? aku ada keperluan dengan adik
iparku” pak warso menuliskan beberapa soal selama lima menit, lalu beliau
memebrikannya padaku .
Kemudian tanpa
banyak bertanya lagi aku pun mengerjakan soal yang di berikan pak warso. Dan beliaupun
pergi menemui adik iparnya pada pukul 12.55.
12.55 aku mulai
mengerjakan soal statistik yang sulitnya luar biasa ini, di mulai dari nomor
dua kemudian empat, lalu Di saat nomor satu tepatnya pukul 13.20, pak warso
muncul untuk mengawasiku mengerjakan soal ujian susulan.mungkin dia khawatir
aku melakukan kecurangan dengan menyontek rumus yang baru ia berikan padaku.
Pukul 13.55
akhirnya aku selesai dengan soalku dan aku menyerahkan pada pak warso.
“sudah pak”
pintaku pada beliau
“oh sudah?”
jawabnya
Namun di saat
aku menyerahkan lembar jawabanku pada pak warso ada suara aneh terdengar dari
dapur “PRAAANKKKKKK.........” suara
cermin pecah aku dan pak warso
Aku dan pak
warso menuju ke dapur, dan alangkah terkejutnya kami ketika melihat adik ipar
pak warso sudah terkapar tak percaya di lantai dapur dengan pisau telah
menancap di dada kirinya. Tanpa pikir panjang aku mengambil telefon genggamku
dan menghubungi kakaku yang mempunyai nomor telfon polisi.
Polisipun datang
pada jam14.55 atau satu jam setelah korban di temukan. aku, pak warso, dan
istri beliau di tetapkan sebagai orang yang di duga dalam kasus pembunuhan
saudara mohammad najib adik ipar pak warso tersebut. Aku pun di interogasi oleh
seseorang di tempat yang jauh dari pak warso dan istri beliaupun di interogasi di
emper rumah tetangga,
Polisi: “e....selamat siang dengan adik...?”
Aku:“budi.. ahmad budi, itu nama saya pak”
Polisi:“oh baik kami dari kasat reskrim ingin
melakukan interogasi tentang pembunuhan saudara najib”
Aku: “iya boleh pak”
Polisi:“Saat kami melakukan autopsi hasil
forensik sementara tadi menunjukan bahwa korban meninggal pada pukul 13.55 apa
yang anda lakukan saat itu?”
Aku: “saat itu saya sedang bersama dengan pak
warso mengerjakan ujian susulan,pak”
Polisi:”oh begitu, lalu apa hubungan adek
dengan korban?”
Aku:”saya tidak tahu beliau pak, saya saja
baru tahu kalau pak warso punya adik ipar”
Polisi: “oh jadi begitu, lalu adek tadi
sedikit bercerita bahwa anda mendengar 2 piring pecah sebelumnya, apakah adek
sudah melihatnya bahwa itu piring yang pecah di bagian dapur?
Aku:”saya kurang tahu pak saat itu saya sedang
di kamar tamu menunggu pak warso keluar menemui saya pak”
Polisi: “baik terimakasih dek atas keterangan yang adik berikan.”
Polisi: “baik terimakasih dek atas keterangan yang adik berikan.”
Polisipun
mulai membebaskan ku dari tuduhan kasus pembunuhan ini. Tapi aku merasa aneh! Padahal
tidak ada barang yang hilang di rumah pak warso, waktu kematian yang tidak
wajar, dan di saat aku masuk ke KTP aku merasakan suhu ruangan tersebut sangat
panas.
Rumah
warso mulai di kerubuti oleh banyak warga setempat, istri dan pak warso
keduanya memiliki alibi yang kuat!, dan akhirnyapun polisi menyimpulkan bahwa kasus
pembunuhan tersebut di lakukan oleh orang luar.
Namun
saat aku melihat kebelakang rumah pak warso aku melihat ada sebuah kursi duduk
yang bagian punggungnya tedapat tambang kecil , dan di bagian penyambung kedua kaki
depan kursi terdapat 5 buah benang yang di talikan di tengahnya.
Apa
ini maksudnya ! aku tidak mengerti kenapa ada tali di kursi jika fungsinya
hanya di gunakan untuk kabur oleh pembunuhnya saja. Akupun bertanya kepada pak
polisi namun tidak ada yang memperdulikanku. Rasa penasarankupun mulai memuncak
ketika aku tidak di perbolehkan masuk oleh polisi untuk melihat TKP akhirnya
akupun mencoba masuk dengan alasan mengambil barangku yang tertinggal di rumah
pak warso. Dengan sedikit berhati hati aku melihat lihat sekeliling dapur. Suasananya
sudah mulai tidak sepanas seperti tadi saaat aku dan pak warso menemukan
korban.
Tiba-tiba
dari belakang tanganku di raih oleh seseorang
“ngapain dek kesini?” tanya seorang polisi
“eh anu pak saya mencari barang saya yang
ketinggalan di kamar mandi dapur pak”
dengan sedikit berbohong aku membuat alasan kepada polisi itu
“maaf mas ini adalah TKP, siapapun untuk saat
ini selain polisi tidak di perkenankan masuk ke dalam” bantah polisi
“Tapi pak barang itu sangat penting” pakasaku
“maaf mas gag bisa!” kali ini ia bicara dengan
nada agag kesal.
Lalu akupun
pergi tanpa menemukan petunjuk apapun. di saat terakhir aku menolehkan kepalaku
kebelakang dan tanpa sadar aku melihat atap dapur pak warso yang di lapisi plafon
ada semacam gosong di atas lemari!
Aku pun mencoba memaksa masuk dan aku melihat
sebuah paku di tembok dekat plafon yang hangus tersebut. Akupun semakin
penasaran dan akupun memaksa masuk dengan menerobos garis kuning polisi dan aku
melih di atas jendela yang pecah ada semacam pasak kayu rumah.
Dan akupun di tegur atas kesembronoanku itu. Polisi
yang menegurku tadi membentaku dengan kasar, dan akupun hanya mengangguk tanda
permintaan maafku padanya.
Namun aku sudah mendapatkan apa yang aku
inginkan dari kesembronoanku tadi.
Tapi aku tidak bisa menduga apa sebenarnya
tujuanya dia membunuh. Dengan terpaksa aku menemui sang pelaku pembunuhan yang
sudah selesai di interogasi dan sedang berdiri di luar rumah karena tak boleh
masuk selain petugas.
ku dekati se pelaku dan aku berkata lirih
padanya
Aku: “aku sudah tahu siapa pembunuhnya,sebaknya
anda mengaku, terlalu banyak barang bukti yang tertinggal”
Pelaku: “hei nak jangan macam-macam mana
mungkin aku pelakunya!”
Karena aku merasa terancam aku pun berteriak
dengan kencang
“PAK POLISIIIIIIIIII SAYA SUDAH TAHU PELAKUNYA DAN BAGAIMANA CARANYA IA
MEMBUNUH!”
Dan semua kepalapun akhirnya tertuju padaku!
“bagus sekarang semua orang melihatku” pintaku dalam hati
“maaf bapak-bapak,ibu-ibu dan
saudara saudara sekalian, aku terpaksa berteriak seperti itu karena saya merasa
terancam karena pelaku pembunuhanya ada di sekitar saya!”
“ha!......Apa yang di katakan anak ini,... siapa dia...” gumam setiap orang
sambil membuat lingkaran Mengelilingi saya karena tidak mau di anggap pelaku.
“baik saya akan memulai deduksi saya, pak polisi apa anda mengira pelakunya
buron dengan melompat ke jendela yang pecah tersebut?” tanyaku pada polisi
Polisi:“i...iya memang benar kami rasa seperti itu” pinta seorang polisi
yang melihat saya berbicara bak pidato nan dakwah.
“Apakah anda sudah melakukan pemeriksaan terhadap kursi yang di gunakan
pelaku untuk memecahkan kaca tersebut?” tanyaku lagi
lalu seorang polisi membawakan kursi duduk itu
kepadaku dengan menetengnya masuk ke lingkaran kerumunan.
“lihat! Apa tidak aneh ada kursi yang di beri tali temali di bagian dudukan
dan kaki kursi ini?” tanyaku pada polisi
“oh itu.... kami masih belum sampai situ penyelidikan kami, kami masih
fokus untuk menyelidiki dapur” jawab polisi
“Pembuhnya menikam korban, lalu memecahkan kaca dapur agar di kira bahwa
pelaku saat ini masih buron. benar begitu kan rencana yang anda buat PAK SUWARSONO?”
“Ha.... apa...suwarsono....... membunuh adik iparnya sendiri.....ternyata
benar....bla bla bla” gumam tetangga yang melingkariku.
“hei budi apa yang kamu katakan akukan dari tadi bersamamu menunggu kamu
untuk ujian susulan, berani beraninya kamu menuduh orang memberikanmu ilmunya!”
jawab pak warso
“dia benar dek apa yang kamu katakan itu salah
saat kami menginterogasinya kami juga dia menjawab begitu” jawab sang kasat
rekrim yang menginterogasiku tadi.
“itu hanya sebagai tameng saja. Sejak awal aku di ajak kesini bukan untuk
di beri ujian susulan!, tetapi aku di jadikan sebagai saksi bahwa dia selalu
bersamaku saat aku datang kesini”
“pak warso menikam korban sebenarnya pukul 13.00 dan kembali mengawasi
ujian susulan saya pada pukul 13.55 bukankah itu waktu yang cukup untuk
mempersiapkan trik!”
“hei dek! Sudah cukup bicaramu nglantur! Mana mungkin dia membunuh adik
iparnya sendiri!” tutur polisi kepadaku
“maaf maaf pak api kebenaran harus di ungkap! Saya memiliki bukti bahwa pk
warsono adalah pelakunya! Bukti pertama adalah plafon atap yang gosong, kedua
suhu ac saat kami menemukan korban sangat tinggi, di tambah lagi ada kursi yang
di beri benang apa itu tidak aneh menurut anda?”
lalu
seorang polisi melakukan pembicaraan secara berbisik sambil melihat padaku
kemudian pak kasat reskrim berkata padaku lagi, “baiklah kalau begitu dek! Tunjukan
kami bagaimana pak warso melakukan semua itu!”
“baik pak! Persiapan ini di buat oleh beliau secara mendadak sehingga
beliau tidak sempat melakukan pembersihan barang bukti saat kaca dapur pecah,
jika sebuah kursi di ikat dengan benang yang tipis maka persiapan akan sudah
selesai”
“Lalu bagaimana pak warso memotong benang tersebut jika ia sedang bersamamu
saat itu?” jawab polisi
“untuk menjawab petanyaan itu atap plafon yang gosong itu adalah
jawabannya! Saat aku tadi mencoba melihat TKP bentuk plafon yang gosong itu
berbentuk memanjang bukannya lingkaran!”
kataku pada banyak orang.
“apa maksudnya
gosong yang memanjang itu dek ?” pak kasat reskrim bertanya.
“itu adalah lilin yang di nyalakan dengan posisi tertidur. Dengan meluruskan
bagian paling bawah lilin dengan tali yang di gunakan untuk menahan lilin maka api dari lilin itu akan memotong tali
dan tali dari punggung kursi ini akan menahannya dari gaya gravitasi bumi dan
menghantamkanya ke jendela. Dan suatu kebetulan yang ajaib bahwa tali ini terlepas
dari pasak dan ikut bersama dengan jatuhnya kursi ke halaman belakang rumah”
jawabku kepada pak kasar reskrim
“lalu bagaimana adek menjelaskan waktu kematian korban saat itu! Bukankah waktu
kematian korban bersamaan dengan saat pak warso bersama anda mengawasi ujian
susulan adek?”
“untuk menjawab pertanyaan bapak kasat reskrim, bapak bisa melihat
temperaatur ac yang tertera! Kematian sebuah Mayat dapat di pengaruhi oleh suhu
ruangan, lebab atau tidaknya ruangan. Dengan menyalakan ac dengan suhu tubuh
yang sama dengan suhu manusia, waktu kematian dapat di kalkulasi dengan pengontrol
suhu ruangan yaitu ac, dan suhu akan berubah drastis saat jendela dapur
pecah dan suhu panas yang semula
memenuhi ruangan dapur akan bersirkulasi dengan suhu luar ruangan dan trik
manipulasi waktu kematian korbanpun dapat di
buat buat.....nah sekarang, bagaimana sanggahan anda pak warso?”
Wajah pak
warso sangat berkeringat! Matanya melotot kebawah dan dia hanya bisa diam saja.
“apa benar apa
yang di katakan anak ini pak warso” tutur pak kasat reskrim.
“......Orang itu......adalah
lintah darat! Dia....dia mengancamku akan memberitahukanku tentang hubunganku
dengan istri sirihku...aku sudah memberikan gajiku....simpananku...tabunganku....!
dan sekarang ia menggoda istri sirihku! apa itu tidak kurang ajar namanya?” cerita pak warso
“apa itu benar
mas” sela istri pak warso
Pak warso hanya
terdiam sedang istrinya menangis tersedu2 pertanda kekecewaanya yang sangat
dalam terhadap orang yang ia cintai. Dan kasus mengerikan pembunuhan adik kakak
itupun selesai. Aku sangat sedih mengetahui tentang kebenaran di baik wajah pak
dosen temperamental standart itu. Ternyata dia punya istri sirih dan rasa ingin
membunuh yang dalam.
Lokasi rumah
pak warso pun mulai berkurang keramaiannya. Akupun menaiki motorku dan
memacunya menuju rumahku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar