Selasa, 03 Juni 2014

KASUS PEMBUNUHAN ADIK IPAR DOSEN WAJAH TEMPRAMENTAL STANDARD



Pagi yang cerah, cahayanya menyilaukan mataku yang masuk ke kamarku melalui lubang genteng atap rumahku. Aku sadar sekarang waktunya diriku untuk bangun.
Tidak seperti saudara saudaraku yang lainnya aku selalu bangun yang paling akhir di antara mereka semua maklumlah aku adalah anak terakhir dari sepuluh bersaudara, aku mendapatkan kasih sayang yang mungkin bisa di bilang cukup dan hal itulah yang membuat diriku menjadi malas untuk menjadi anak yang rajin.
Semangunya dari tempat tidur aku pergi ke dapur untuk mengambil makanan dari meja makan yang tertutup oleh tudung saji berwarna biru.
Tak perlu aku ceritakan hal atau sesuatu yang bisa aku ceritakan kepada kalian tentang sarapanku. Karena percayalah tidak ada hal yang menarik dari sarapan pagiku.
Seusai aku selesai menyelesaikan sarapanku, seperti biasa aku langsung menuju kampus untuk menerima pelajaran dari seorang dosen yang wajahnya datar sekali dan bahkan sulit sekali untuk membedakan bagaimanakah perasaannya saat ini susahkah atau sedihkah ! hanya tuhan yang tahu.
Ya mata kuliah pagi ini adalah berhubungan dengan statistik, ketahuilah apa yang paling aku benci dari kuliah ini adalah soal menghitung! Otaku sangat lemah terhadap apa saja yang berhubungan dengan angka.
Nama dosenku itu adalah suwarsono, temperamental datar,suara datar,tapi intelegensi yang tingggi. Hari ini aku ingin sekali bertanya berapa nilai UASku yang aku kerjakan kemarin.semogasaja tidak dapat D.
saat kuliah selesai perkuliahan akhirnya aku memberanikan diriku untuk menemui pak suwarsono untuk mengetahui berapa nilai uasku saat itu.
“pak war” panggilku pada beliau
“ia ada apa” jawabnya
“e... saya ingin mengetahui berapakah nilai ujian saya saat Uas kemarin “
Dia hanya diam saja saat aku memasang wajah berharap padanya. Dan ada sepatah kata yang mulai keluar darinya.
“budi nilai statistik kamu jelek sekali aku bahkan tidak yakin kamu bisa melanjutkan mata kuliah dependensi berikutnya jika kamu masih jelek dalam mata kuliah ini”
Aku berani bertaruh nilai statistiku masih jelek mendengar jawapan darinya. Akupun diam terbisu dan membiarkan beliau melangkah meninggalkan kelas.
Dan tanpa aku duga beliau memanggilku lagi.
“bud jika kamu masih ingin aku beri nilai b pergilah ke rumahku jam 12.30 siang, di sana aku akan memberikanmu sedikit kuliah Vip gratis dan di ikuti dengan ujian susulan untuk memperbaiki nilai merahmu itu”
Wah aku senang sekali mendengar ucapan dari pak warso dia mau memberiku ujian susulan.
Jam ber jam pun berlalu waktu terus berputar seiring aku melalui kuliah mikro dan akuntansi keuanganku, dan sudah tiba pada waktu jam 12.00 aku mengirim pesan kepada ayahku bahwa aku tidak bisa langsung pulang di karenakah ada keperluan dengan dosenku. Dan tanpa menunggu lagi aku langsung tancap gas menuju rumah pak warso.
Sesampainya di rumahnya aku menengok jam tanganku sudah menunjukan pukul 12.23 tepat. Aku ketuk pintunya dan selang 1 menit kemudian, pintupun terbuka dan yang membukakan pintu adalah ibu-ibu yang memakai baju dress yang mungkin itu adalah istri beliau.
Aku di persilahkan duduk olehnya. Kulihat hiasan rumahnya yang bernuansa jawa tulen di belakang sofa terdapat hiasan dinding gambar kota ka’bah yang pasti aku duga beliau beli dari sales gambar lukisan.
Selang beberapa saat aku mendengar ada dua piring pecah piar........! piar...........! aku menduga pasti ada sesuatu terjadi di bagian dapur, tapi aku tidak berani mendekat walau bagaimanapun ini adalah rumah orang! Terdengar juga suara dua orang yang sedang  bertengkar bla bla bla, selang beberapa saat ada seorang om om keluar dengan wajah memerah dan menatap wajahku! Aku hanya tersenyum padanya sambil menundukan kepalaku
Dan akhirnya pak dosen temperamental datarpun datang, aku menduga pasti dialah orang yang melakukan pertengkaran dengan om om yang keluar  rumah sambil menatap wajahku tadi, terbukti dengan wajah pak warso yang lesu dan terlihat galau. Tapi aku tidak berani menanyai, aku sadar sendiri bahwa itu adalah bukan urusanku. Dan waktu kuliah vipkupun sudah di mulai. Pak warso mulaimenunjukan padaku beberapa rumus  beserta contoh soalnya.
Jam menunjukan 12.44 om om yang tadi keluar rumah, masuk lalu membanting pintu masuk burak........! huawah angkuhnya orang itu tidak memperdulikan kami sambil menghisap rokok.
Pak warso kemudian menghentikan sejenak kuliahku dan bercerita kepadaku
“maafkan pak warso ya bud, itu adalah adik ipar ku, mungkin kamu tadi mendengar kami bertengkar sehingga kamu jadi terganggu kuliahnya” tuturnya padaku
“iya tidak apa-apa kok pak” jawabku
Kemudian dari dapur terdengar suara adik pak warso memanggilnya “Mas tolong kesini sebentar aku ingin bicara denganmu”
“iya jib aku nanti kesana sebentar “ jawab pak warsono kepada adik iparnya
“E... budi sebaiknya kamu mulai mengerjakan soal uas susulan saja ya? aku ada keperluan dengan adik iparku” pak warso menuliskan beberapa soal selama lima menit, lalu beliau memebrikannya padaku .
Kemudian tanpa banyak bertanya lagi aku pun mengerjakan soal yang di berikan pak warso. Dan beliaupun pergi menemui adik iparnya pada pukul 12.55.
12.55 aku mulai mengerjakan soal statistik yang sulitnya luar biasa ini, di mulai dari nomor dua kemudian empat, lalu Di saat nomor satu tepatnya pukul 13.20, pak warso muncul untuk mengawasiku mengerjakan soal ujian susulan.mungkin dia khawatir aku melakukan kecurangan dengan menyontek rumus yang baru ia berikan padaku.
Pukul 13.55 akhirnya aku selesai dengan soalku dan aku menyerahkan pada pak warso.
“sudah pak” pintaku pada beliau
“oh sudah?” jawabnya
Namun di saat aku menyerahkan lembar jawabanku pada pak warso ada suara aneh terdengar dari dapur  “PRAAANKKKKKK.........” suara cermin pecah aku dan pak warso
Aku dan pak warso menuju ke dapur, dan alangkah terkejutnya kami ketika melihat adik ipar pak warso sudah terkapar tak percaya di lantai dapur dengan pisau telah menancap di dada kirinya. Tanpa pikir panjang aku mengambil telefon genggamku dan menghubungi kakaku yang mempunyai nomor telfon polisi.
Polisipun datang pada jam14.55 atau satu jam setelah korban di temukan. aku, pak warso, dan istri beliau di tetapkan sebagai orang yang di duga dalam kasus pembunuhan saudara mohammad najib adik ipar pak warso tersebut. Aku pun di interogasi oleh seseorang di tempat yang jauh dari pak warso dan istri beliaupun di interogasi di emper rumah tetangga,
Polisi: “e....selamat siang dengan adik...?”
Aku:“budi.. ahmad budi, itu nama saya pak”
Polisi:“oh baik kami dari kasat reskrim ingin melakukan interogasi tentang pembunuhan saudara najib”
Aku: “iya boleh pak”
Polisi:“Saat kami melakukan autopsi hasil forensik sementara tadi menunjukan bahwa korban meninggal pada pukul 13.55 apa yang anda lakukan saat itu?”
Aku: “saat itu saya sedang bersama dengan pak warso mengerjakan ujian susulan,pak”
Polisi:”oh begitu, lalu apa hubungan adek dengan korban?”
Aku:”saya tidak tahu beliau pak, saya saja baru tahu kalau pak warso punya adik ipar”
Polisi: “oh jadi begitu, lalu adek tadi sedikit bercerita bahwa anda mendengar 2 piring pecah sebelumnya, apakah adek sudah melihatnya bahwa itu piring yang pecah di bagian dapur?
Aku:”saya kurang tahu pak saat itu saya sedang di kamar tamu menunggu pak warso keluar menemui saya pak”
Polisi: “baik terimakasih dek atas keterangan yang adik berikan.”
            Polisipun mulai membebaskan ku dari tuduhan kasus pembunuhan ini. Tapi aku merasa aneh! Padahal tidak ada barang yang hilang di rumah pak warso, waktu kematian yang tidak wajar, dan di saat aku masuk ke KTP aku merasakan suhu ruangan tersebut sangat panas.
            Rumah warso mulai di kerubuti oleh banyak warga setempat, istri dan pak warso keduanya memiliki alibi yang kuat!, dan akhirnyapun polisi menyimpulkan bahwa kasus pembunuhan tersebut di lakukan oleh orang luar.
            Namun saat aku melihat kebelakang rumah pak warso aku melihat ada sebuah kursi duduk yang bagian punggungnya tedapat tambang kecil , dan di bagian penyambung kedua kaki depan kursi terdapat 5 buah benang yang di talikan di tengahnya.
            Apa ini maksudnya ! aku tidak mengerti kenapa ada tali di kursi jika fungsinya hanya di gunakan untuk kabur oleh pembunuhnya saja. Akupun bertanya kepada pak polisi namun tidak ada yang memperdulikanku. Rasa penasarankupun mulai memuncak ketika aku tidak di perbolehkan masuk oleh polisi untuk melihat TKP akhirnya akupun mencoba masuk dengan alasan mengambil barangku yang tertinggal di rumah pak warso. Dengan sedikit berhati hati aku melihat lihat sekeliling dapur. Suasananya sudah mulai tidak sepanas seperti tadi saaat aku dan pak warso menemukan korban.
            Tiba-tiba dari belakang tanganku di raih oleh seseorang
“ngapain dek kesini?” tanya seorang polisi
“eh anu pak saya mencari barang saya yang ketinggalan di kamar mandi dapur pak”  dengan sedikit berbohong aku membuat alasan kepada polisi itu
“maaf mas ini adalah TKP, siapapun untuk saat ini selain polisi tidak di perkenankan masuk ke dalam” bantah polisi
“Tapi pak barang itu sangat penting” pakasaku
“maaf mas gag bisa!” kali ini ia bicara dengan nada agag kesal.
 Lalu akupun pergi tanpa menemukan petunjuk apapun. di saat terakhir aku menolehkan kepalaku kebelakang dan tanpa sadar aku melihat atap dapur pak warso yang di lapisi plafon ada semacam gosong di atas lemari!
Aku pun mencoba memaksa masuk dan aku melihat sebuah paku di tembok dekat plafon yang hangus tersebut. Akupun semakin penasaran dan akupun memaksa masuk dengan menerobos garis kuning polisi dan aku melih di atas jendela yang pecah ada semacam pasak kayu rumah.
Dan akupun di tegur atas kesembronoanku itu. Polisi yang menegurku tadi membentaku dengan kasar, dan akupun hanya mengangguk tanda permintaan maafku padanya.
Namun aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan dari kesembronoanku tadi.
Tapi aku tidak bisa menduga apa sebenarnya tujuanya dia membunuh. Dengan terpaksa aku menemui sang pelaku pembunuhan yang sudah selesai di interogasi dan sedang berdiri di luar rumah karena tak boleh masuk selain petugas.
ku dekati se pelaku dan aku berkata lirih padanya
Aku: “aku sudah tahu siapa pembunuhnya,sebaknya anda mengaku, terlalu banyak barang bukti yang tertinggal”
Pelaku: “hei nak jangan macam-macam mana mungkin aku pelakunya!”
Karena aku merasa terancam aku pun berteriak dengan kencang
“PAK POLISIIIIIIIIII SAYA SUDAH TAHU PELAKUNYA DAN BAGAIMANA CARANYA IA MEMBUNUH!”
Dan semua kepalapun akhirnya tertuju padaku!
“bagus sekarang semua orang melihatku” pintaku dalam hati
“maaf  bapak-bapak,ibu-ibu dan saudara saudara sekalian, aku terpaksa berteriak seperti itu karena saya merasa terancam karena pelaku pembunuhanya ada di sekitar saya!”
“ha!......Apa yang di katakan anak ini,... siapa dia...” gumam setiap orang sambil membuat lingkaran Mengelilingi saya karena tidak mau di anggap pelaku.
“baik saya akan memulai deduksi saya, pak polisi apa anda mengira pelakunya buron dengan melompat ke jendela yang pecah tersebut?” tanyaku pada polisi
Polisi:“i...iya memang benar kami rasa seperti itu” pinta seorang polisi yang melihat saya berbicara bak pidato nan dakwah.
“Apakah anda sudah melakukan pemeriksaan terhadap kursi yang di gunakan pelaku untuk memecahkan kaca tersebut?” tanyaku lagi
lalu seorang polisi membawakan kursi duduk itu kepadaku dengan menetengnya masuk ke lingkaran kerumunan.
“lihat! Apa tidak aneh ada kursi yang di beri tali temali di bagian dudukan dan kaki kursi ini?” tanyaku pada polisi
“oh itu.... kami masih belum sampai situ penyelidikan kami, kami masih fokus untuk menyelidiki dapur” jawab polisi
“Pembuhnya menikam korban, lalu memecahkan kaca dapur agar di kira bahwa pelaku saat ini masih buron. benar begitu kan rencana yang anda buat PAK SUWARSONO?”
“Ha.... apa...suwarsono....... membunuh adik iparnya sendiri.....ternyata benar....bla bla bla” gumam tetangga yang melingkariku.
“hei budi apa yang kamu katakan akukan dari tadi bersamamu menunggu kamu untuk ujian susulan, berani beraninya kamu menuduh orang memberikanmu ilmunya!” jawab pak warso
“dia benar dek apa yang kamu katakan itu salah saat kami menginterogasinya kami juga dia menjawab begitu” jawab sang kasat rekrim yang menginterogasiku tadi.
“itu hanya sebagai tameng saja. Sejak awal aku di ajak kesini bukan untuk di beri ujian susulan!, tetapi aku di jadikan sebagai saksi bahwa dia selalu bersamaku saat aku datang kesini”
“pak warso menikam korban sebenarnya pukul 13.00 dan kembali mengawasi ujian susulan saya pada pukul 13.55 bukankah itu waktu yang cukup untuk mempersiapkan trik!”
“hei dek! Sudah cukup bicaramu nglantur! Mana mungkin dia membunuh adik iparnya sendiri!” tutur polisi kepadaku
“maaf maaf pak api kebenaran harus di ungkap! Saya memiliki bukti bahwa pk warsono adalah pelakunya! Bukti pertama adalah plafon atap yang gosong, kedua suhu ac saat kami menemukan korban sangat tinggi, di tambah lagi ada kursi yang di beri benang apa itu tidak aneh menurut anda?”
 lalu seorang polisi melakukan pembicaraan secara berbisik sambil melihat padaku kemudian pak kasat reskrim berkata padaku lagi, “baiklah kalau begitu dek! Tunjukan kami bagaimana pak warso melakukan semua itu!”
“baik pak! Persiapan ini di buat oleh beliau secara mendadak sehingga beliau tidak sempat melakukan pembersihan barang bukti saat kaca dapur pecah, jika sebuah kursi di ikat dengan benang yang tipis maka persiapan akan sudah selesai”


“Lalu bagaimana pak warso memotong benang tersebut jika ia sedang bersamamu saat itu?” jawab polisi
“untuk menjawab petanyaan itu atap plafon yang gosong itu adalah jawabannya! Saat aku tadi mencoba melihat TKP bentuk plafon yang gosong itu berbentuk memanjang bukannya lingkaran!”  kataku pada banyak orang.
“apa maksudnya gosong yang memanjang itu dek ?” pak kasat reskrim bertanya.
“itu adalah lilin yang di nyalakan dengan posisi tertidur. Dengan meluruskan bagian paling bawah lilin dengan tali yang di gunakan untuk menahan lilin  maka api dari lilin itu akan memotong tali dan tali dari punggung kursi ini akan menahannya dari gaya gravitasi bumi dan menghantamkanya ke jendela. Dan suatu kebetulan yang ajaib bahwa tali ini terlepas dari pasak dan ikut bersama dengan jatuhnya kursi ke halaman belakang rumah” jawabku kepada pak kasar reskrim

“lalu bagaimana adek menjelaskan waktu kematian korban saat itu! Bukankah waktu kematian korban bersamaan dengan saat pak warso bersama anda mengawasi ujian susulan adek?”
“untuk menjawab pertanyaan bapak kasat reskrim, bapak bisa melihat temperaatur ac yang tertera! Kematian sebuah Mayat dapat di pengaruhi oleh suhu ruangan, lebab atau tidaknya ruangan. Dengan menyalakan ac dengan suhu tubuh yang sama dengan suhu manusia, waktu kematian dapat di kalkulasi dengan pengontrol suhu ruangan yaitu ac, dan suhu akan berubah drastis saat jendela dapur pecah  dan suhu panas yang semula memenuhi ruangan dapur akan bersirkulasi dengan suhu luar ruangan dan trik manipulasi waktu kematian korbanpun dapat di  buat buat.....nah sekarang, bagaimana sanggahan anda pak warso?”
 Wajah pak warso sangat berkeringat! Matanya melotot kebawah dan dia hanya bisa diam saja.
“apa benar apa yang di katakan anak ini pak warso” tutur pak kasat reskrim.
“......Orang itu......adalah lintah darat! Dia....dia mengancamku akan memberitahukanku tentang hubunganku dengan istri sirihku...aku sudah memberikan gajiku....simpananku...tabunganku....! dan sekarang ia menggoda istri sirihku! apa itu tidak kurang ajar namanya?”  cerita pak warso
“apa itu benar mas” sela istri pak warso
Pak warso hanya terdiam sedang istrinya menangis tersedu2 pertanda kekecewaanya yang sangat dalam terhadap orang yang ia cintai. Dan kasus mengerikan pembunuhan adik kakak itupun selesai. Aku sangat sedih mengetahui tentang kebenaran di baik wajah pak dosen temperamental standart itu. Ternyata dia punya istri sirih dan rasa ingin membunuh yang dalam.
Lokasi rumah pak warso pun mulai berkurang keramaiannya. Akupun menaiki motorku dan memacunya menuju rumahku.