Jumat, 12 Desember 2014

kasus perampokan,dan mayat yang hilang bagian 1



Ini sudah menjelang 3 tahun aku tidak bertemu dengan dia. Seorang wanita yang aku cintai pertama kali. Sulit bagiku untuk melupakannya. Hari ini dosenku tidak bisa hadir di karenakah ada urusan di luar kota. Aku memutuskan untuk pergi ke sebuah perpustakaan kota.
aku mencari data untuk makalah tugas akhir yang di berikan oleh dosenku... disini... di tempat ini aku pernah mengajaknya berkunjung hanya untuk melihat lihat buku... tidak lebih...
“baik aku hari ini... rencananya hendak mencari.... buku... tentang sejarah bank-bank Indonesia... “ gumamku
Aku coba naik ke lantai satu dan memilah milah buku di bilik ilmu pengetahuan sosial...
Aku tidak sengaja melihat sepasang laki laki dan perempuan duduk sejajar di antara  satu buku yang mereka baca... padahal di perpustakaan ini setiap macam buku terdapat setidaknya 5 buku yang sama dan anehnya kenapa mereka membacanya secara bersama! Dan aku baru tersadar bahwa buku yang mereka baca adalah buku tentang pregnant (kehamilan)....pantas saja.... hal ini membuatku teringat masa aku dengan dia hah.... seandainya aku tidak sebodoh mencampak kanya. Terakhir dia menyampaikan perasaan saat aku memutuskan hubungan kami dia berkata bahwa dia menangis meraung raung... aku sangat mengerti perasaannya dan saat inipun aku tetap merasakan apa yang dia rasakan
Oh ini dia buku yang aku cari akhirnya ketemu... aku duduk di sebuah bangku kosong yang terlihat tidak di duduki oleh siapapun aku duduk disana sambil menyiapkan selembar kertas dan bolpoin supaya aku bisa mencatat beberapa poin penting dari buku yang aku baca.
 Aku membaca sambil berbunyi lirih supaya aku lebih mengilhami setiap paragraf yang aku baca. Pukul 9.13 ada 2 orang berbaju hitam masuk melewati meja yang aku gunakan untuk aku membaca. Kulihat sedikit orang itu... oh mungkin orang itu adalah seorang pengusaha atau karyawan kantor yang hendak mencari sebuah buku atau mungkin sekedar mencari koran koran lama.
Tanpa aku sengaja aku melihat sebuah pistol laras pendek terselip di pinggang  salah satu di antara dua orang tersebut. Aku sempat berfikir untuk apa orang membawa pistol datang ke perpustakaan . apakah dia ada kegiatan permainan detektif? Tidak... tidak mungkin mananmungkin seorang pelacak menggunakan baju yang mencolok... atau jangan jangan polisi? Ah mana mungkin ada polisi memiliki waktu untuk masuk ke perpustakaan!
Akhirnya rasa penasaranku tak bisa terobati aku mencoba pindah satu meja supaya lebih mendekat mendengarkan pembicaraan mereka. Namun sungguh tak bisa ku mengerti apa yang merekakatakan mereka menggunakan kata sandi di perbincangan mereka yang aneh mereka berkata
“....Ag 2452 xf 10.10 soekarno mandiri” kata seorang salah satu yang berbaju hitam. “ok...Ag 2452 Fx sudah menuju di kordinat “ balas seorang temannya yang di depannya hanya itulah yang aku mengerti!
Aneh mereka berbincang bincang menggunakan kata yang aneh aku memutuskan untuk menulis ulang semua kata kata yang mereka ucapkan
Ok yang pertama kita mendapatkan.... “Ag 2452 xf 10.10 soekarno mandiri” kemudian “Ag 2452 Fx sudah menuju di kordinat” aku merasa pernah mendengar istilah istilah tersebut sebelumnya...
Ag 2452 xf 10.10 soekarno mandiri....
Ag 2452 xf 10.10 soekarno mandiri....
Ag 2452 xf 10.10 soekarno mandiri....
Ag... Ag...Ag jika ag adalah nomor plat nomor.... maka akan di ikuti dengan 4 angka dan 2 huruf selanjutnya... oh aku mengerti yang merka maksud Ag 2452 xf adalah plat nomor,,,, ok baiklah sekarang 10.10 mungkin ini semacam sebuah angka 20 yang di bagi menjadi dua... JANGAN JANGAN!!!! OH AKU MENGERTI SEKARANG!!!!
Ag 2452 xf adalah plat nomor yang mereka gunakan
10.10 adalah jumlah mereka yang di bagi menjadi dua kelompok
Soekarno adalah gambar pahlawan di dalam uang 100.000
Dan mandiri adalah nama salah satu bank!!!!
Aku harus menghentikan aksi mereka yah!!! Harus!!! tapi.... apa yang harus aku lakukan? Aku masih kekurangan bukti untuk menggagalkan aksi mereka...!!! ah sial!!!
Beberapa saat kemudian mereka meninggalkan tempat. Oh sialnya aku.... akhirnya aku memutuskan untuk menunda agenda mencari materi makalahku di perpustakaan aku tertarik dengan apa yang di incar oleh dua orang ini... saat mereka keluar aku pun juga keluar....saat mereka menuju mobil mereka aku menuju motorku. Sempat beberapa saat mereka menoleh ke arahku... aku menduga mereka mulai mencurigaiku... untuk menghapus kecurigaan mereka, aku berpura-pura melihat lihat pesan di hpku.., dan tampaknya cara ini berhasil... merekapun menjalalankan mobil mereka selang 400 meter aku mulai menyalakan motorku dan mengikuti mereka...
Baiklah di dalam percakapan mereka tadi di sebutkan “Ag 2452 xf 10.10 soekarno mandiri” jika incaran mereka bank mandiri seharusnya tidak jauh di sekitar sini, bank yang mereka incar!!!!
....mereka mulai menepi! Dan benar dugaanku... mereka menepi di bank mandiri. Aku masuk ke bank mandiri dengan sedikit mengekor di belakang mereka.
Aku duduk di kursi yang terbuat dari besi sambil mengamati gerak gerik mereka. Ada 9 orang nasabah pengantre 4 petugas teller bank dan 1 orang satpam.... kurasa ini tidak akan membantu.
Tiba-tiba duar....duar....duar....duar!!!
Suara tembakan keras dari salah satu orang dari dua orang berbaju hitam. Para nasabah mulai bingung namun yang membuatku heran adalah kenapa satpam yang bertugas juga ikut bingung dan mengambil posisi jongkok...
Kemudian seseorang berbaju hitam tadi bertiriak di dalam bank “semuanya angkat tangan kalian di belakang kepala kalian kemudian berkumpul dalam sebuah lingkaran di tengah2 ruangan atau kalau tidak akan ku robek perut kalian”
Jih... sungguh mengenaskan! Seharusnya aku tadi mengerakan tugas saja di perpustakaan. dasar naluri detektifku! selalu saja tidak bisa di hambat. Rasa keingin tahuanku terus saja mencuat-cuat. Hingga akhirnya rasa keingin tahuanku sendirilah yang membawaku kedalam bahaya.
Aku dan 9 orang nasabah di tambah 3 teller bank di ancam dengan senjata laras pendek dalam satu lingkaran.
Tak bisa berbuat apa2 itulah yang terpikir didalam fikiranku, aku terus bergumam dan berfikir bagaimana caranya aku keluar dari ikatan tali sialan ini. Sementara perampok perampok itu terus menyapu uang2 yang ada loker kasir.
Ia memasukan kedalam sebuah ransel. Dan yang membuatku bingung juga adalah kenapa satpam itu tidak juga memberi tanda S.O.S apapun kepada orang luar.
Perampok berbaju hitam itu rupanya sudah mulai selesai menyapu bersih is uang yang ada loker dan brankas bank.  Dan memasukannya kedalam mobil.
Tanganku tanpa sadar telah di jejali sebuah benda seperti koin oleh seseorang, keudian aku menengok kebelakang dan sret! Ada seorang wanita yang di ambil oleh perampok itu kemungkinan besar dia telah di jadikan sandra.
Dia diseret dengan leher yang yang terikat oleh lengan kiri salah satu perampok itu. Kemudian satpam tadi disuruh penyandra wanita itu untuk berdiri
“BERDIRI KAMU” tegas perampok
“bos apa-apaan ini bos? Aku kan sekutu bos?” jawab satpam
Sontak aku tercenganng dan mengerti kenapa ia tidak mau melakukan usaha apapun saat orang2 berbaju hitam itu melakukan kejahatan.
Duar... Duar...! kedua sisi dada satpam itu di tembak oleh perampok
“huh.. dasar kecoa sialan rencana kami gagal gara2 anggota pemula seperti mu!” ujar penyandra sembari meninggalkannya tersungkur di pintu.
Sadar dia mulai melarikan diri sambil membawa sandra, aku bergegas dan keluar menuju montorku untuk segera mengejar perampok-perampok itu.
“sial mereka mau lari” gumamku
“SEMUANYA SEGERA HUBUNGI AMBULAN DAN POLISI TERDEKAT AKU AKAN MENGEJAR MEREKA SEMUA” teriakku kepada seluruh orang yang ada di bank tersebut.
Saat aku berlari menuju pintu, tangan satpam yang sekarat tadi memegang kaki kiriku
“t...to...tol...sela...m...e..llo..” kata-kata terakhir sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku mengepalkan tanganku karena kesal dan tersadar bahwa apa yang ada di tanganku ternyata bukanlah sebuah koin melainkan sebuah cincin.!
Tak ada waktu untuk berfikir, aku melanjutkan pengejaranku sambil mengantongi cincin pemberian salah seorang sandra tadi.
Mobil  denga plat nomor Ag 2452 xf terlihat di depan mata! Aku mulai menyalakan motorku dan mengejar motor tersebut.
Karena aku menggunakan motor, sehingga aku bisa menerobos beberapa jalan sempit di antara ruas jalan kosong antara mobil yang lewat secara berbapapasan. Mobil tersebut sudah mulai terlihat di depanku mobil dengan plat no. Ag 2452 xf sudah berada 5 meter di depanku. Mobil itu aku buntuti dari belakang. 200 meter perjalanan kemudian mobil itu berbelok  ke kanan dan tidak mau mematuhi rambu2 lalu lintas. Dan aku sebenarnya ingin melakukan hal yang sama dengan komplotan-komplotan berbaju hitam itu! Tapi saat aku coba ada saja kendaraan yang lalu lalang melintas . dan saat lampu hijau tiba, aku segera tancap gas menuju mobil pelaku tersebut 43 meter...30 meter...aku semakin denkat dengan mobil tersebut. Jika di lihat posisinya sepertinya mobil itu sedang berhenti... dan saat aku mulai mendekat,ban mobil itu bersap dan mengeluarkan bunyi decitan seakan pengemudinya menancapkan gas secara terburu-buru tanda bahwa ia sadar ia telah di kejar oleh seseorang.
Bagus di depannya ada pertigaan itu tandanya ia seharusnya mengurangi kecepatan mobilnya agar ia bisa melakukan tikungan menuju salah satu jalan yang hendak ia tuju. Aku bersemangat dengan memutar gas motorku agar lebih cepat. Namun apa yang akau duga sungguh di luar dugaanku. Mobil itu semakin cepat dan semakin cepat. Bahkan saat di pertigaanpun ia semakin cepat dan apa yang aku duga semuanya salah mobil itu menabrakkan dirinya disebuah bangunan dan BRUAKKK!!!!! Mobil itu menabrak dinding bangunan tersebut, dan BOOOM kobaran abi terlihat mengpul dari bibir mobil tersebut.
Mobil Ag 2452 xf mengalami kecelakaan!!! Sadar akan hal tersebut aku berusaha melakukan pengawasan dan melarang orang sekitar untuk tidak menyentuh mobil tersebut dan hanya memperbolehkan mereka untuk memadamkan apinya saja menjelaskan bahwa tidak boleh mengotak atik TKP selain memadamkan apinya. 1 jam 13 menit kemudian polisi baru datang.
Aku menceritakan semuanya kepada polisi apa yang terjadi dimulai dari perpustakaan hingga insiden kecelakaan mobil Ag 2452 xf ini.
Namun saat polisi melakukan olah TKP, yang terlihat hanyalah seorang laki-laki yang tewas dengan kepala ringsek dibagian wajah. Tidak ditemukan uang hasil perampokan ataupun mayat wanita di dalam mobil Ag 2452 xf yang terbakar tersebut.
Apa ini! Kenapa.....kenapa mayatnya hanya satu! Kenapa tidak ada 4! kenapa uang hasil rampokan bank juga tidak ada di dalam mobiltersebut! kenapa...kenapa ini! aku tidak habis pikir!

Selasa, 03 Juni 2014

KASUS PEMBUNUHAN ADIK IPAR DOSEN WAJAH TEMPRAMENTAL STANDARD



Pagi yang cerah, cahayanya menyilaukan mataku yang masuk ke kamarku melalui lubang genteng atap rumahku. Aku sadar sekarang waktunya diriku untuk bangun.
Tidak seperti saudara saudaraku yang lainnya aku selalu bangun yang paling akhir di antara mereka semua maklumlah aku adalah anak terakhir dari sepuluh bersaudara, aku mendapatkan kasih sayang yang mungkin bisa di bilang cukup dan hal itulah yang membuat diriku menjadi malas untuk menjadi anak yang rajin.
Semangunya dari tempat tidur aku pergi ke dapur untuk mengambil makanan dari meja makan yang tertutup oleh tudung saji berwarna biru.
Tak perlu aku ceritakan hal atau sesuatu yang bisa aku ceritakan kepada kalian tentang sarapanku. Karena percayalah tidak ada hal yang menarik dari sarapan pagiku.
Seusai aku selesai menyelesaikan sarapanku, seperti biasa aku langsung menuju kampus untuk menerima pelajaran dari seorang dosen yang wajahnya datar sekali dan bahkan sulit sekali untuk membedakan bagaimanakah perasaannya saat ini susahkah atau sedihkah ! hanya tuhan yang tahu.
Ya mata kuliah pagi ini adalah berhubungan dengan statistik, ketahuilah apa yang paling aku benci dari kuliah ini adalah soal menghitung! Otaku sangat lemah terhadap apa saja yang berhubungan dengan angka.
Nama dosenku itu adalah suwarsono, temperamental datar,suara datar,tapi intelegensi yang tingggi. Hari ini aku ingin sekali bertanya berapa nilai UASku yang aku kerjakan kemarin.semogasaja tidak dapat D.
saat kuliah selesai perkuliahan akhirnya aku memberanikan diriku untuk menemui pak suwarsono untuk mengetahui berapa nilai uasku saat itu.
“pak war” panggilku pada beliau
“ia ada apa” jawabnya
“e... saya ingin mengetahui berapakah nilai ujian saya saat Uas kemarin “
Dia hanya diam saja saat aku memasang wajah berharap padanya. Dan ada sepatah kata yang mulai keluar darinya.
“budi nilai statistik kamu jelek sekali aku bahkan tidak yakin kamu bisa melanjutkan mata kuliah dependensi berikutnya jika kamu masih jelek dalam mata kuliah ini”
Aku berani bertaruh nilai statistiku masih jelek mendengar jawapan darinya. Akupun diam terbisu dan membiarkan beliau melangkah meninggalkan kelas.
Dan tanpa aku duga beliau memanggilku lagi.
“bud jika kamu masih ingin aku beri nilai b pergilah ke rumahku jam 12.30 siang, di sana aku akan memberikanmu sedikit kuliah Vip gratis dan di ikuti dengan ujian susulan untuk memperbaiki nilai merahmu itu”
Wah aku senang sekali mendengar ucapan dari pak warso dia mau memberiku ujian susulan.
Jam ber jam pun berlalu waktu terus berputar seiring aku melalui kuliah mikro dan akuntansi keuanganku, dan sudah tiba pada waktu jam 12.00 aku mengirim pesan kepada ayahku bahwa aku tidak bisa langsung pulang di karenakah ada keperluan dengan dosenku. Dan tanpa menunggu lagi aku langsung tancap gas menuju rumah pak warso.
Sesampainya di rumahnya aku menengok jam tanganku sudah menunjukan pukul 12.23 tepat. Aku ketuk pintunya dan selang 1 menit kemudian, pintupun terbuka dan yang membukakan pintu adalah ibu-ibu yang memakai baju dress yang mungkin itu adalah istri beliau.
Aku di persilahkan duduk olehnya. Kulihat hiasan rumahnya yang bernuansa jawa tulen di belakang sofa terdapat hiasan dinding gambar kota ka’bah yang pasti aku duga beliau beli dari sales gambar lukisan.
Selang beberapa saat aku mendengar ada dua piring pecah piar........! piar...........! aku menduga pasti ada sesuatu terjadi di bagian dapur, tapi aku tidak berani mendekat walau bagaimanapun ini adalah rumah orang! Terdengar juga suara dua orang yang sedang  bertengkar bla bla bla, selang beberapa saat ada seorang om om keluar dengan wajah memerah dan menatap wajahku! Aku hanya tersenyum padanya sambil menundukan kepalaku
Dan akhirnya pak dosen temperamental datarpun datang, aku menduga pasti dialah orang yang melakukan pertengkaran dengan om om yang keluar  rumah sambil menatap wajahku tadi, terbukti dengan wajah pak warso yang lesu dan terlihat galau. Tapi aku tidak berani menanyai, aku sadar sendiri bahwa itu adalah bukan urusanku. Dan waktu kuliah vipkupun sudah di mulai. Pak warso mulaimenunjukan padaku beberapa rumus  beserta contoh soalnya.
Jam menunjukan 12.44 om om yang tadi keluar rumah, masuk lalu membanting pintu masuk burak........! huawah angkuhnya orang itu tidak memperdulikan kami sambil menghisap rokok.
Pak warso kemudian menghentikan sejenak kuliahku dan bercerita kepadaku
“maafkan pak warso ya bud, itu adalah adik ipar ku, mungkin kamu tadi mendengar kami bertengkar sehingga kamu jadi terganggu kuliahnya” tuturnya padaku
“iya tidak apa-apa kok pak” jawabku
Kemudian dari dapur terdengar suara adik pak warso memanggilnya “Mas tolong kesini sebentar aku ingin bicara denganmu”
“iya jib aku nanti kesana sebentar “ jawab pak warsono kepada adik iparnya
“E... budi sebaiknya kamu mulai mengerjakan soal uas susulan saja ya? aku ada keperluan dengan adik iparku” pak warso menuliskan beberapa soal selama lima menit, lalu beliau memebrikannya padaku .
Kemudian tanpa banyak bertanya lagi aku pun mengerjakan soal yang di berikan pak warso. Dan beliaupun pergi menemui adik iparnya pada pukul 12.55.
12.55 aku mulai mengerjakan soal statistik yang sulitnya luar biasa ini, di mulai dari nomor dua kemudian empat, lalu Di saat nomor satu tepatnya pukul 13.20, pak warso muncul untuk mengawasiku mengerjakan soal ujian susulan.mungkin dia khawatir aku melakukan kecurangan dengan menyontek rumus yang baru ia berikan padaku.
Pukul 13.55 akhirnya aku selesai dengan soalku dan aku menyerahkan pada pak warso.
“sudah pak” pintaku pada beliau
“oh sudah?” jawabnya
Namun di saat aku menyerahkan lembar jawabanku pada pak warso ada suara aneh terdengar dari dapur  “PRAAANKKKKKK.........” suara cermin pecah aku dan pak warso
Aku dan pak warso menuju ke dapur, dan alangkah terkejutnya kami ketika melihat adik ipar pak warso sudah terkapar tak percaya di lantai dapur dengan pisau telah menancap di dada kirinya. Tanpa pikir panjang aku mengambil telefon genggamku dan menghubungi kakaku yang mempunyai nomor telfon polisi.
Polisipun datang pada jam14.55 atau satu jam setelah korban di temukan. aku, pak warso, dan istri beliau di tetapkan sebagai orang yang di duga dalam kasus pembunuhan saudara mohammad najib adik ipar pak warso tersebut. Aku pun di interogasi oleh seseorang di tempat yang jauh dari pak warso dan istri beliaupun di interogasi di emper rumah tetangga,
Polisi: “e....selamat siang dengan adik...?”
Aku:“budi.. ahmad budi, itu nama saya pak”
Polisi:“oh baik kami dari kasat reskrim ingin melakukan interogasi tentang pembunuhan saudara najib”
Aku: “iya boleh pak”
Polisi:“Saat kami melakukan autopsi hasil forensik sementara tadi menunjukan bahwa korban meninggal pada pukul 13.55 apa yang anda lakukan saat itu?”
Aku: “saat itu saya sedang bersama dengan pak warso mengerjakan ujian susulan,pak”
Polisi:”oh begitu, lalu apa hubungan adek dengan korban?”
Aku:”saya tidak tahu beliau pak, saya saja baru tahu kalau pak warso punya adik ipar”
Polisi: “oh jadi begitu, lalu adek tadi sedikit bercerita bahwa anda mendengar 2 piring pecah sebelumnya, apakah adek sudah melihatnya bahwa itu piring yang pecah di bagian dapur?
Aku:”saya kurang tahu pak saat itu saya sedang di kamar tamu menunggu pak warso keluar menemui saya pak”
Polisi: “baik terimakasih dek atas keterangan yang adik berikan.”
            Polisipun mulai membebaskan ku dari tuduhan kasus pembunuhan ini. Tapi aku merasa aneh! Padahal tidak ada barang yang hilang di rumah pak warso, waktu kematian yang tidak wajar, dan di saat aku masuk ke KTP aku merasakan suhu ruangan tersebut sangat panas.
            Rumah warso mulai di kerubuti oleh banyak warga setempat, istri dan pak warso keduanya memiliki alibi yang kuat!, dan akhirnyapun polisi menyimpulkan bahwa kasus pembunuhan tersebut di lakukan oleh orang luar.
            Namun saat aku melihat kebelakang rumah pak warso aku melihat ada sebuah kursi duduk yang bagian punggungnya tedapat tambang kecil , dan di bagian penyambung kedua kaki depan kursi terdapat 5 buah benang yang di talikan di tengahnya.
            Apa ini maksudnya ! aku tidak mengerti kenapa ada tali di kursi jika fungsinya hanya di gunakan untuk kabur oleh pembunuhnya saja. Akupun bertanya kepada pak polisi namun tidak ada yang memperdulikanku. Rasa penasarankupun mulai memuncak ketika aku tidak di perbolehkan masuk oleh polisi untuk melihat TKP akhirnya akupun mencoba masuk dengan alasan mengambil barangku yang tertinggal di rumah pak warso. Dengan sedikit berhati hati aku melihat lihat sekeliling dapur. Suasananya sudah mulai tidak sepanas seperti tadi saaat aku dan pak warso menemukan korban.
            Tiba-tiba dari belakang tanganku di raih oleh seseorang
“ngapain dek kesini?” tanya seorang polisi
“eh anu pak saya mencari barang saya yang ketinggalan di kamar mandi dapur pak”  dengan sedikit berbohong aku membuat alasan kepada polisi itu
“maaf mas ini adalah TKP, siapapun untuk saat ini selain polisi tidak di perkenankan masuk ke dalam” bantah polisi
“Tapi pak barang itu sangat penting” pakasaku
“maaf mas gag bisa!” kali ini ia bicara dengan nada agag kesal.
 Lalu akupun pergi tanpa menemukan petunjuk apapun. di saat terakhir aku menolehkan kepalaku kebelakang dan tanpa sadar aku melihat atap dapur pak warso yang di lapisi plafon ada semacam gosong di atas lemari!
Aku pun mencoba memaksa masuk dan aku melihat sebuah paku di tembok dekat plafon yang hangus tersebut. Akupun semakin penasaran dan akupun memaksa masuk dengan menerobos garis kuning polisi dan aku melih di atas jendela yang pecah ada semacam pasak kayu rumah.
Dan akupun di tegur atas kesembronoanku itu. Polisi yang menegurku tadi membentaku dengan kasar, dan akupun hanya mengangguk tanda permintaan maafku padanya.
Namun aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan dari kesembronoanku tadi.
Tapi aku tidak bisa menduga apa sebenarnya tujuanya dia membunuh. Dengan terpaksa aku menemui sang pelaku pembunuhan yang sudah selesai di interogasi dan sedang berdiri di luar rumah karena tak boleh masuk selain petugas.
ku dekati se pelaku dan aku berkata lirih padanya
Aku: “aku sudah tahu siapa pembunuhnya,sebaknya anda mengaku, terlalu banyak barang bukti yang tertinggal”
Pelaku: “hei nak jangan macam-macam mana mungkin aku pelakunya!”
Karena aku merasa terancam aku pun berteriak dengan kencang
“PAK POLISIIIIIIIIII SAYA SUDAH TAHU PELAKUNYA DAN BAGAIMANA CARANYA IA MEMBUNUH!”
Dan semua kepalapun akhirnya tertuju padaku!
“bagus sekarang semua orang melihatku” pintaku dalam hati
“maaf  bapak-bapak,ibu-ibu dan saudara saudara sekalian, aku terpaksa berteriak seperti itu karena saya merasa terancam karena pelaku pembunuhanya ada di sekitar saya!”
“ha!......Apa yang di katakan anak ini,... siapa dia...” gumam setiap orang sambil membuat lingkaran Mengelilingi saya karena tidak mau di anggap pelaku.
“baik saya akan memulai deduksi saya, pak polisi apa anda mengira pelakunya buron dengan melompat ke jendela yang pecah tersebut?” tanyaku pada polisi
Polisi:“i...iya memang benar kami rasa seperti itu” pinta seorang polisi yang melihat saya berbicara bak pidato nan dakwah.
“Apakah anda sudah melakukan pemeriksaan terhadap kursi yang di gunakan pelaku untuk memecahkan kaca tersebut?” tanyaku lagi
lalu seorang polisi membawakan kursi duduk itu kepadaku dengan menetengnya masuk ke lingkaran kerumunan.
“lihat! Apa tidak aneh ada kursi yang di beri tali temali di bagian dudukan dan kaki kursi ini?” tanyaku pada polisi
“oh itu.... kami masih belum sampai situ penyelidikan kami, kami masih fokus untuk menyelidiki dapur” jawab polisi
“Pembuhnya menikam korban, lalu memecahkan kaca dapur agar di kira bahwa pelaku saat ini masih buron. benar begitu kan rencana yang anda buat PAK SUWARSONO?”
“Ha.... apa...suwarsono....... membunuh adik iparnya sendiri.....ternyata benar....bla bla bla” gumam tetangga yang melingkariku.
“hei budi apa yang kamu katakan akukan dari tadi bersamamu menunggu kamu untuk ujian susulan, berani beraninya kamu menuduh orang memberikanmu ilmunya!” jawab pak warso
“dia benar dek apa yang kamu katakan itu salah saat kami menginterogasinya kami juga dia menjawab begitu” jawab sang kasat rekrim yang menginterogasiku tadi.
“itu hanya sebagai tameng saja. Sejak awal aku di ajak kesini bukan untuk di beri ujian susulan!, tetapi aku di jadikan sebagai saksi bahwa dia selalu bersamaku saat aku datang kesini”
“pak warso menikam korban sebenarnya pukul 13.00 dan kembali mengawasi ujian susulan saya pada pukul 13.55 bukankah itu waktu yang cukup untuk mempersiapkan trik!”
“hei dek! Sudah cukup bicaramu nglantur! Mana mungkin dia membunuh adik iparnya sendiri!” tutur polisi kepadaku
“maaf maaf pak api kebenaran harus di ungkap! Saya memiliki bukti bahwa pk warsono adalah pelakunya! Bukti pertama adalah plafon atap yang gosong, kedua suhu ac saat kami menemukan korban sangat tinggi, di tambah lagi ada kursi yang di beri benang apa itu tidak aneh menurut anda?”
 lalu seorang polisi melakukan pembicaraan secara berbisik sambil melihat padaku kemudian pak kasat reskrim berkata padaku lagi, “baiklah kalau begitu dek! Tunjukan kami bagaimana pak warso melakukan semua itu!”
“baik pak! Persiapan ini di buat oleh beliau secara mendadak sehingga beliau tidak sempat melakukan pembersihan barang bukti saat kaca dapur pecah, jika sebuah kursi di ikat dengan benang yang tipis maka persiapan akan sudah selesai”


“Lalu bagaimana pak warso memotong benang tersebut jika ia sedang bersamamu saat itu?” jawab polisi
“untuk menjawab petanyaan itu atap plafon yang gosong itu adalah jawabannya! Saat aku tadi mencoba melihat TKP bentuk plafon yang gosong itu berbentuk memanjang bukannya lingkaran!”  kataku pada banyak orang.
“apa maksudnya gosong yang memanjang itu dek ?” pak kasat reskrim bertanya.
“itu adalah lilin yang di nyalakan dengan posisi tertidur. Dengan meluruskan bagian paling bawah lilin dengan tali yang di gunakan untuk menahan lilin  maka api dari lilin itu akan memotong tali dan tali dari punggung kursi ini akan menahannya dari gaya gravitasi bumi dan menghantamkanya ke jendela. Dan suatu kebetulan yang ajaib bahwa tali ini terlepas dari pasak dan ikut bersama dengan jatuhnya kursi ke halaman belakang rumah” jawabku kepada pak kasar reskrim

“lalu bagaimana adek menjelaskan waktu kematian korban saat itu! Bukankah waktu kematian korban bersamaan dengan saat pak warso bersama anda mengawasi ujian susulan adek?”
“untuk menjawab pertanyaan bapak kasat reskrim, bapak bisa melihat temperaatur ac yang tertera! Kematian sebuah Mayat dapat di pengaruhi oleh suhu ruangan, lebab atau tidaknya ruangan. Dengan menyalakan ac dengan suhu tubuh yang sama dengan suhu manusia, waktu kematian dapat di kalkulasi dengan pengontrol suhu ruangan yaitu ac, dan suhu akan berubah drastis saat jendela dapur pecah  dan suhu panas yang semula memenuhi ruangan dapur akan bersirkulasi dengan suhu luar ruangan dan trik manipulasi waktu kematian korbanpun dapat di  buat buat.....nah sekarang, bagaimana sanggahan anda pak warso?”
 Wajah pak warso sangat berkeringat! Matanya melotot kebawah dan dia hanya bisa diam saja.
“apa benar apa yang di katakan anak ini pak warso” tutur pak kasat reskrim.
“......Orang itu......adalah lintah darat! Dia....dia mengancamku akan memberitahukanku tentang hubunganku dengan istri sirihku...aku sudah memberikan gajiku....simpananku...tabunganku....! dan sekarang ia menggoda istri sirihku! apa itu tidak kurang ajar namanya?”  cerita pak warso
“apa itu benar mas” sela istri pak warso
Pak warso hanya terdiam sedang istrinya menangis tersedu2 pertanda kekecewaanya yang sangat dalam terhadap orang yang ia cintai. Dan kasus mengerikan pembunuhan adik kakak itupun selesai. Aku sangat sedih mengetahui tentang kebenaran di baik wajah pak dosen temperamental standart itu. Ternyata dia punya istri sirih dan rasa ingin membunuh yang dalam.
Lokasi rumah pak warso pun mulai berkurang keramaiannya. Akupun menaiki motorku dan memacunya menuju rumahku.